Teror Gereja di Sleman, TPDI: Ada Kekuatan Besar Bermain

Jakarta, Nerapolitik.com–Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mengutuk keras aksi penyerangan di Gereja St. Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta.

Koordinator TPDI Petrus Selestinus mengatakan aksi penyerangan tersebut bertujuan untuk melemahkan Pemerintahan Jokowi-JK. Ini juga disebutnya sebagai desain besar demi Pilpres 2019.

“Tujuan pelaku dan kelompoknya adalah cepat atau lambat akan menurunkan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi,” kata Petrus di Jakarta, Senin, 12 Februari 2018.

Petrus mengatakan aksi teror ini adalah perbuatan terkutuk yang tidak boleh ditolerir. Selain melanggar HAM, menyasar pemimpin agama diduga target jangka panjang dimaksudkan untuk memancing kemarahan umat Katolik dan umat beragama lainnya. Akibatnya, terjadi aksi balas dendam sehingga menimbulkan kekacauan di wilayah lain di luar Yogyakarta. 

“Namun demikian kita percaya bahwa semua umat beragama di Indonesia memiliki hati nurani dan toleransi yang kuat sebagai jati diri bangsa Indonesia. Intoleransi adalah tabiat impor dari belahan lain yang dicoba untuk menghilangkan identitas budaya asli Indonesia,” ujarnya.

Namun demikian, kata Petrus umat beragama diharapkan tidak terpancing mengikuti pola teror yang biadab, pengecut dan tidak berperikemanusiaan itu.

Bukan Aksi Teror

Peristiwa penyerangan tersebut terjadi pada Minggu, 11 Februari 2018 saat jemaat St. Lidwina sedang melakukan ibadah Misa. Terekam dalam sebuah video yang beredar, pria itu memasuki gereja, menyerang dan mengacungkan pedangnya.

Belakangan, pelaku telah diketahui bernama Suliyono, seorang mahasiswa berumur 23 tahun. Ia melukai empat orang jemaat setelah memasuki gereja lalu berjalan ke altar dan melukai Romo Prier yang sedang memimpin Misa.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Yulianto menyatakan, penyerangan yang terjadi di Gereja St Lidwina, Sleman oleh seorang pria yang membawa pedang samurai bukan termasuk aksi teror.

Menurut Yulianto, walaupun kejadian tersebut terjadi di gereja, aksi itu hanya sebuah kasus penganiayaan.

“Kalau teror kan pake bom. Ini orang bacok jadi termasuk kasus penganiayaan,” kata Yulianto saat diminta konfirmasi, Minggu 11 Februari 2018.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*