Pilgub NTT 2018 Dalam Angka, Isu Agama Akan Laku?

Jakarta, Nerapolitik.com–Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada 2018 sudah semakin dekat. Banyak bakal calon yang melakukan konsolidasi baik ke level elit partai politik untuk mendapatkan dukungan politik maupun kepada basis politik yakni masyarakat untuk memperoleh elektoral.

Figur-figur yang munculpun beragam, baik yang sudah sering maju maupun muka baru. Merekapun berangkat dari berbagai daerah yang merepresentasikan NTT yakni dari pulau Flores, Sumba dan Timor. Selain itu, kehadiran para calon juga merepresentasikan kekuatan etnis di NTT.

Lalu bagaimana sebenarnya politik NTT dalam angka? Hal ini belum banyak yang dibahas baik dalam media sosial maupun dalam diskusi terbuka.

Menurut saya, sangat penting membuka peta politik NTT dalam angka sehingga bisa memahami lebih jauh dan kemudian para calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT bisa menganalisis sejauhmana peluang politik jika melakukan konfigurasi calon berdasarkan basis politik yang jelas.

Jika salah dalam melakukan konfigurasi calon, maka tentu akan mengalami kesulitan untuk menang dalam pilgub nanti. Sebaliknya calon yang mampu meramu kekuatan berdasarkan analisis kekuatan basis politik akan memperoleh dukungan elektoral dari publik.

Ada beberapa hal yang mesti menjadi basis pertimbangan dalam menentukan konfigurasi politik pada pemiihan gubernur NTT 2018. Diantaranya adalah demografi pemilih baik secara geografis maupun geopolitik, serta latarbelakang identitas (representasi agama).

Representasi agama bukan berarti bahwa kita sedang membangunkan sentimen agama dalam Pilkada. Akan tetapi fakta empiris bahwa agama tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan politik oleh para pemilih. Apalagi dengan tipikal pemilih di NTT yang masih dalam masyarakat dengan budaya parakial. Maka pertimbangan kesamaan agama masih menjadi pertimbangan utama diantara pertimbangan lainnya.

Secara demografi, pemilih di NTT terbagi ke dalam tiga wilayah besar yakni Flores, Sumba dan Timor serta beberapa pulau kecil. Demografi pemilih tersebut juga menjadi basis utama dari setiap calon yang berangkat dari tiga pulau besar tersebut.

Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, NTT memiliki 3.185.121 DPT. DPT tersebut tersebar ke dalam tiga pulau besar. Pulau Flores dan Lembata terdapat 1.282.690 DPT atau 40% dari total DPT. Sedangkan untuk Pulau Sumba terdapat 482.710 DPT atau sebesar 15% dari total DPT NTT. Adapun pulau Timor dan Alor terdapat 1.419.721 DPT atau sebesar 45% dari DPt NTT.

Dari demografi ini kita bisa melihat bahwa terdapat dua kekuatan besar yang diwakili oleh Pulau Timor dan Pulau Flores.

Selain soal demografi pemilih di atas, saya juga melihat bahwa penting untuk kita melacak seperti apa agama dalam angka di NTT. Berdasarkan data yang ditampilkan oleh Badan Pusat Statistik NTT 2016 menunjukan bahwa komposisi agama di NTT terdapat 55.19% Katolik, Protestan 35,29%, Islam 9.30%, Hindu 0,21% dan Budha 0,01%.

Angka ini menjadi penting untuk menjadi rujukan bagi bakal calon gubenur untuk menentukan sikap dalam melakukan konfigurasi calon berdasarkan data yang ada.

Selain dua hal di atas, salah satu yang hal yang perlu diperhatikan adalah soal sejauh mana kekuatan politik dari setiap partai politik. Hal ini sangat penting untuk memastikan apakah bakal calon gubenur dapat melakukan pencalonansecara sendiri (tanpa koalisi) atau harus melakukan koalisi.

Sebagai contoh, berikut ini merupakan data perolehan kursi DPRD Propinsi NTT pada pemilhan legislatif (Pileg) 2014 yang lalu.

Dari hasil Pileg tersebut terlihat bahwa Partai NasDem memperoleh 8 kursi dari toal 65 kursi NTT atau sebesar 12 %. PKB memperoleh 5 kuris (8%), PKS 2 kursi (3%), PDI Perjuangan 10 kursi (15%), Golkar 10 Kursi (17%), Gerindra 8 kursi (12%), Demokrat 8 (12%), PAN 5 kursi (8%), Hanura 5 kursi (8%) dan PKPI 3 kursi (5%).

Dari perolehan kursi DPRD Provinsi NTT pada pileg 2014 yang lalu terlihat bahwa tidak ada satu pun partai yang mencapai angka 20% yang merupakan syarat minimal pencalonan Gubernur dan wakil Gubermnur NTT. Artinya bahwa dalam pemilihan Gubernur NTT tahun 2018 harus melakukan koalisi sehingga bisa mencapai ketentuan 20%.

Yang menjadi pertanyaan penting adalah partai apa saja yang akan melakukan koalisi? Dari berbagai data NTT dalam angka di atas, saya mencoba untuk memberikan sedikit gambaran sederhana menuju Pilgub NTT 2018.

Yang pertama adalah bahwa dalam menentukan pasangan calon gubernur NTT tentu penting untuk mempertimbangkan soal representasi wilayah. Seperti terlihat di atas bahwa kekuatan Flores dan Timor menjadi pertimbangan yang ideal untuk menjadi basis utama dalam menentukan bakal calon gubernur dan wakil gubernur. Misalnya saja calon gubenurnya dari Pulau Flores dan wakil gubernurnya dari Pulau Timor atau sebaliknya.

Kedua adalah bahwa dalam pemilhan gubernur NTT yang akan datang, tidak bisa diabaikan soal representasi agama. Dalam dua kali pemilihan gubernur BTT (2008 dan 2013) secara langsung, konfigurasi Katolik-Protestan menjadi ampuh untuk meraih dukungan publik. Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa mayoritas pemilih di NTT adalah menganut Katolik dengan 55,19% diikuti oleh Protestan 35,29%.

Ketiga adalah konfigurasi kekuatan politik. Saya melihat bahwa Partai PDI Perjuangan sebagai partai penguasa saat ini mempunyai pertimbangan yang kuat untuk mengusung kader internal partainya. Selain itu, partai lain seperti Golkar, Demokrat dan Gerindra serta nasdem tentu akan melakukan kosolidasi sehingga bisa mencalonkan gubernur dalam pilgub yang akan datang.

Namun dari semua partai yang ada tentu harus melakukan koalisi untuk mencapai angka 20% sebagai syarat dukungan minimal.
Hingga saat ini, peta politik pilgub NTT masih sangat terbuka karena belum ada satu pun partai politik yang sudah memberikan rekomendasi secara tertulis kepada salah satu calon.

Semoga analisis sederhana ini menjadi rujukan bagi siapapun calon gubernur NTT pada pilgub 2018 yang datang.

Penulis: Wempy Hadir
Peneliti/Direktur Komunikasi INDOPOLLING NETWORK Jakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*