JAD Itu Kecil, ISIS Itu Nyata Di Indonesia

Bom Kampung Melayu-Jakarta Timur

Nerapolitik.com-Rosmala tengah asyik berdagang sore itu. Tak ada yang aneh sejak siang. Begitu juga di sekitar Halte busway TransJakarta, Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Aktivitas warga DKI Jakarta berjalan normal.

Jelang tengah malam, wanita berusia empat puluh satu tahun itu mendengar jeritan. Rosmala sempat menoleh, melihat asap kecil membubung di atas jembatan layang. Jakarta, kata Rosmala sudah biasa dengan hal-hal begitu. Kebakaran, tawuran dan jeritan orang adalah hal biasa.

“Ada bom,” teriak orang-orang.

Rosmala pun seperti terbangun di siang bolong. Dia baru sadar, dua kali ledakan yang sempat dirasakan getarannya itu ternyata bom. Bersama warga lainnya, ia menyaksikan potongan tubuh di sekitar Halte Busway.

“Ngeri melihatnya. Saya pikir tadinya cuma ledakan ban mobil,” kata Rosmala kepada Nerapolitik.com usai ledakan di Halte Busway Transjakarta, Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/3/2017).

Rosmala merupakan salah satu saksi dari sekian mata yang menyaksikan langsung peristiwa malam itu. Dari catatan yang dimiliki pihak kepolisian, terdapat 16 korban bom dengan lima meninggal dunia, termasuk dua pelaku, Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukri.

Setelah bom Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016, Indonesia kembali diguncang bom bunuh diri. Ini kesebelas kalinya bom bunuh diri terjadi di tanah air. Korban berjatuhan, baik warga sipil maupun petugas kepolisian.

Menurut polisi, bom bunuh diri di Kampung Melayu dilakukan Jaringan Bandung Raya, suatu sel kecil dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) bentukan pelaku bom Thamrin, Bahrun Nain, warga negara Indonesia yang bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah.

Aksi jaringan ini direncanakan sejak Desember lalu saat penangkapan tersangka teroris di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Salah satu aksi jaringan ini namun gagal adalah bom panci di Cicendo, Bandung, Februari lalu.

JAD Itu Kecil tapi ISIS Itu Nyata

Pascaledakan di Kampung Melayu Kapolri Jendral Tito Karnavian membatalkan kunjungannya ke Arab Saudi.

Keesokannya, Kamis (25/4) sore, Tito mengunjungi lokasi ledakan itu. Di lokasi, dia menyebut, meski bagian dari ISIS, JAD hanyalah kelompok kecil. Dia bahkan berjanji akan mengejar kelompok yang telah menewaskan 40 anak buahnya selama ini.

“Sel-sel mereka kita sudah tahu, kelompok mereka sudah tahu. Saya sudah perintahkan jajaran, kejar habis kelompok ini,” kata Tito.

Ancaman ISIS di Indonesia tentu tak boleh dipandang remeh lagi. Kepolisian menerima informasi itu pada November 2015 dimana ISIS memberi sinyal akan menyerang Indonesia.

Informasi itu bahkan diperkuat oleh laporan Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2015. Lembaga sandi telik ini
mendeteksi, sudah ada 50 warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok teroris berkedok agama tersebut.

Kemudian Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) tahun 2016 menyebut sekitar 50 orang yang bergabung ISIS sudah kembali ke Indonesia.

BNPT memperkirakan masih ada 400 WNI lagi yang berada di sana dan akan pulang ke Indonesia jika ISIS terus terdesak oleh pasukan Irak.

Pengamat terorisme sekaligus Direktur Program Imparsial Al Araf mengatakan, dibandingkan dengan jumlah kelompok teroris Jemaah Islamiyah (pelaku bom Bali 2012), keberadaan JAD di Indonesia justru lebih mengkhwatirkan karena punya afiliasi dengan ISIS.

Menurut Al Araf, pola serangan JADmemang tidak menargetkan korban dalam jumlah besar. Namun, kata dia, kelompok ini bisa muncul kapan dan dimana saja dengan menyerang seperti cara ISIS.

“Mereka sulit dideteksi, kapan saja bisa serang dengan segala bentuk cara. Mereka tidak menyiapkan dengan skala besar seperti bom Bali,” kata Al Araf beberapa waktu lalu.

Al Araf mengatakan, JAD muncul di Indonesia juga akibat terdesaknya ISIS di Suriah oleh serangan Rusia belakangan ini. JAD, kata dia akan bangkit di negara-negara di mana kelompok radikal ini memungkinkan untuk berkembang.

“Upaya bangkit kembali dengan memanfatkan momen ISIS di Suriah,” ucapnya.

Menurut dia, JAD akan terus ada di Indonesia selama ISIS masih terus menebar teror. Maka, lanjut Al Araf, tak ada cara lain selain memerangi ISIS dari hulu ke hilir.

“Sepanjang ISIS dan Suriah belum selesai, JAD belum selesai di Indonesia juga. Problem ISIS dan Suriah harus ditangani,” kata Al Araf.

Lalu kenapa polisi kerap jadi target selama ini? Al Araf mengatakan polisi merupakan musuh utama karena dinilai sebagai penghalang utama kelompok ini berkembang di Indonesia.

Selama polisi terus melawan, tegas Al Araf, baik JAD dan ISIS itu sendiri akan terus menyerang.

“Karena harus diakui kerja polisi membuat kelompok teror ini dendam. Polisi dianggap sebagai yang menghalangi semua tujuan gerakan,” katanya.

Menurut Al Araf, cara memerangi JAD dan ISIS harus dilakukan secara komprehensif dan tidak hanya menjadi tugas negara saja. Selain meningkatkan penekanan hukum, dia berkata semua warga negara harus terlibat dalam memberantas berkembangnya ideologi kelompok ini.

“Pemuka agama dilibatkan. Begitu juga pihak bea cukai, imigrasi dan sebagainya,” kata Al Araf. (Reba)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*